Fadjroel Rachman, Bukan Harapan.

Fenomena Barack Obama yang sukses meraup konstituen melalui dunia maya memang patut ditiru oleh seorang yang akan menjadi pemimpin, tepatnya Presiden. “Mancalieak contoh ka nan sudah, Maambieak tuah ka nan manang” kata pepatah Minang.

Dalam teori kewirausahaan juga ada istilah ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Ini terjadi karena ruang kreatifitas terasa semakin sempit. Jadi sepertinya sulit mencipta suatu yang baru. Tak apalah. Bukankah meniru dengan melakukan modifikasi itu akan bersintesa menjadi sesuatu yang baru?

Latah tanpa sentuhan pribadi adalah taklid buta. Tak akan menghasilkan apa-apa, karena hanya akan menghantarkan kita sebagai “the follower” bukan “the leader” untuk kemudian menjadi “the looser” dan bukan “the winner”.

Bung Fadjroel, ikut berkampanye melalui jejaring sosial FaceBook seperti yang dilakukan oleh Barack Obama bukanlah suatu hal yang salah. Namun ketika sarana itu hanya sebagai ajang monolog, menurutku sangat naif. Sebab jejaring sosial, sebagaimana namanya adalah sarana interaktif, ada dialog. Namun hal itu belum sepenuhnya dilakukan oleh Bung Fadjroel.

Aku memperhatikan, sudah cukup banyak orang yang ingin menjadi teman, menjadi pemuja dan sekaligus pendukungnya (2.648 ketika tulisan ini diposkan). Tetapi sepertinya Bung Fadjroel menganggap sepi hal itu. Sangat jarang komentar, perhatian dan dukungan yang diberikan oleh orang-orang yang menggantungkan harapan kepadanya agar kelak menjadi pemimpin bangsa ini namun (sepertinya) dianggap angin lalu olehnya.

Apakah dia hanya mencari Popularitas? Atau benar-benar berniat menjadi Presiden? Tentu hanya dia yang tahu. Namun sangat disayangkan bila gejolak dukungan yang begitu menggebu itu diabaikan saja. Simaklah FaceBooknya, berapa persen yang mendapat “sentuhan” khusus darinya. Paling tidak aku melihat ada seorang Kapten Penerbang dan kebetulan juga berada di Amrik, itu yang agaknya pernah “berbalas pantun” dengan dia dan seorang cewek Bandung, yang berdiam di Amerika juga.

Apakah karena faktor dia tentara atau karena dia berada di Negeri Obama, entahlah. Jangan pilih-pilih lah.
Aku sendiri pernah membuat sebuah posting singkat di blog ini. Dan pernah pula menghadiahi “pulpen semu” di FaceBooknya, dengan pesan “Pena alat juang yang ampuh, bukan begitu Bung? Merdeka!!!”, tapi rupanya dia tidak tertarik. Kecewa?

Tidak juga, karena bagiku “memberi tak berharap kembali”. Walupun sebenarnya, untuk “mendapatkan” banyak kita harus “memberi” yang banyak terlebih dahulu.

Menurutku Bung Fadjroel sudah harus “melupakan dirinya” dan memikirkan “calon Pendukungnya”, yaitu rakyat Indonesia yang berharap kepadanya sebagai “agen perubahan”. Jadi tidak hanya sibuk mengabarkan bahwa nanti akan talkshow di TV, sedang seminar di kampus atau sedang menghadiri sidang UU 23/2003 tentang Pemilihan Presiden. Penting memang…!

Ini kurasa tak kalah penting. Jelas-jelas pedukungnya sangat antusias, eh malah tak disentuhnya. Mungkin tempat yang tepat bagi anda adalah memang di arena debat kusir, yang mencitrakan bahwa anda jago silat lidah. Dari kampus ke kampus, dari seminar ke seminar dan dari talkshow ke talkshow. Kalau memang begitu, Bung Fadjroel akan dikenang sebagai Harimau Ompong yang hanya mengaum tak menggigit.

“Ah, keluarlah dari sangkarmu Bung. Rakyat membutuhkan sentuhanmu, jangan hanya seperti perawan pingitan yang sebentar lagi mau dikawinkan”.

“Ye, kang Tutur melow”, celetuk seorang blogger.

Terus terang bukan hanya blogger, namun rakyat negeri ini banyak yang menggantung harapan kepadanya. Cuma bila untuk mengambil hati seorang blogger saja, Bung Fadjroel keberatan, bagaimana dia akan mengambil hati pemulung, pengemis, mbok wedang, kang Ojek beserta kaum miskin lainnya, yang jangankan tersentuh internet baca “koran bekas” saja tidak sempat.

“Menungkan lah, sejenak Bung!”. Tulisan ini lahir sebagai wujud peduli kami akan kemajuan bangsa ini melalui “sentuhan tanganmu”. Jamahlah hati kami, rangkullah!

Kecuali misi mu hanya menjaring popularitas, bukan menjadi Presiden yang akan memimpin rakyat di negara ini maka lupakanlah “celotehan blogger Tukang Ota” yang tidak penting ini. Kejar, raih dan tangkaplah popularitas itu. Karena sesungguhnya itu sesuatu yang sangat menakutkan.

Kesimpulan: Fadjroel Rahman, Bukan Harapan. Kecuali dia Berubah.

1 Tanggapan ke “Fadjroel Rachman, Bukan Harapan.”


  1. 1 fame November 7, 2008 pukul 4:20 am

    Ulasan yang menarik.. ditunggu komennya di icuk-badminton.com
    Kami mengharapkan dukungan untuk ICuk menjadi Ketua PBSI.

    Salam,

    Fans berat Icuk Sugiarto


Tinggalkan Balasan




Kibarkan Suaramu

indonesia_flag.gif

Pengen Berkibar juga! Copy Paste aja!

kabarindo.jpg

Yang Sedang Mampir

hit counter

Blog Indonesia juga...

Sebuah Pencapaian! Alhamdulillah...

Directory of Politics Blogs

RSS Tempo

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Kompas

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS Padek – SUMBAR

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Technorati

Add to Technorati Favorites

Partisipan Rep Blog Indonesia

rbiputih.png

Muslim bloger, juga

Indonesian Muslim Blogger

Bubar IPDN

ANTI Korupsi!

Blogger Anti Korupsi

Top

  • Tidak ada

Pembaca

Negara

Iklan

Text Link Ads

Arsip