Why I’m so Special? Karena aku itu manusia!!!
Bukan malaikat yang hanya patuh dan penurut, bukan pula setan yang dipenuhi dendam dan pembangkangan. Tidak juga binatang yang hanya ngurusin makan, kawin dan berbiak. Tapi aku manusia yang punya potensi menjadi malaikat dan bahkan melebihinya. Juga mungkin saja menjadi setan dan lebih setan dari pada biangnya. Dan bisa pula menjadi binatang melebihi binatang. Bener Aku punya potensi untuk itu. Tapi aku lebih bangga menjadi manusia. Sehingga aku bener-bener istimewa. I’m so special…..!
Salah kaprah tentang manusia juga harus diluruskan. Selama ini, bila ada pertanyaan: Koq pejabat anu korupsi sih? Kok artis itu kawin cerai aja sih? Kok ustadz begitu sih? Jawabnya “Mereka kan manusia, bisa khilaf bisa salah, toh?” – Yang bener menurutku adalah: Kok Susi Susanti, Rudi Hartono, Icuk Sugiarto bisa juara sih? Kok Andriwongso, Tung Desem Waringin, James Gwee, Jennie S. Bev bisa jadi motivator sih? Kok SBY, Mega, Gus Dur, Habibie, Soeharto dan Soekarno bisa jadi RI-1 sih? Disinilah baru tepat dan pantas kita menjawab “Mereka kan Manusia!!!”
Menjadi manusia seutuhnya! [dulu zaman Harmoko: Menjadi Manusia Indonesia Seutuhnya] – “Kami jadi manusia itu dengan sebaik-baik bentuk”-(Al Qur’an) – Terimakasih untuk Papa, Mama yang telah memberikan kasihnya. Juga adik-adikku yang selalu memberikan dorongan. Dan lebih lagi istri dan anak-anakku yang selalu melimpahkan cintanya. Tidakkah aku istimewa? Aku dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi, mengasihi, mencintai – Wow, aku begitu istimewa.
Demikian juga teman, dimana mereka selalu merasa kehilangan bila aku absen dalam pertemuan. Aku sangat spesial karena aku bisa jadi tong sampah curahan hatinya, menjadi penghibur kala laranya dan menjadi penyemangat kala jatuhnya. Berbagi dengan sesama adalah manusiawi. Dan aku bangga jadi manusia, karena itu aku special.
Menulis dan bertutur adalah profesiku, sejati! Itulah lahan untuk berbagi dan memberi. Ladang untuk berjuang – wadah untuk berbakti kepada idealisme! Yah, aku WARTAWAN, pembawa berita, duta besar, penutur, teman dikala sepi, dalam duka apalagi dalam canda dan tawa. Aku wartawan – karena itu aku ISTIMEWA.
Kemudian, keinginan untuk selalu berbagi – bergandeng – berjuang menuju pencapaian maksimal, untuk diriku, untuk keluargaku, untuk lingkunganku, untuk negaraku, untuk agamaku dan untuk kemanusiaan tidak pernah padam dalam hatiku. Begitu hatiku tergetar oleh frekwensi “daya juang” aku siap untuk ambil bagian. Atas nama kemanusiaan.
Aku benci ketidak adilan, aku muak dengan kemunafikkan, aku bosan dengan kebodohan, marah atas pembodohan, rintih dengan pemiskinan dan dongkol atas kekejaman. Menolak diskriminasi. Karena semua itu menjauhkan manusia dari kemanusiaannya.
Dan satu lagi yang membuatku bener-bener istimewa adalah karena aku murah senyum.
Menjadi manusia, menjadi penutur, menjadi wartawan, penebar kasih sayang, pengumbar senyum menjadikan ku damai – tenteram di mana saja. Istimewa bukan?
Menyampaikan kabar, menebar kasihsayang, tersenyum adalah langkah-langkah kecil dan sepertinya sepele tapi kalau setiap kita, setiap manusia melakukannya akan membuat dunia yang penuh kecamuk ini terlihat indah. Maka : Berilah kabar gembira, tebarkan kasih sayang, berikan senyum maka anda juga akan menjadi ISTIMEWA seperti aku.
Finally, kemampuan untuk melihat, memuji dan memotivasi diri sendiri (seperti yang ku lakukan saat ini) juga adalah keistimewaan ku. Kalau bukan aku, SIAPA LAGI???
I’m so special…………………..!!!

















Makasih Andiko, saya sangat terharu akan antusiasme Anda. You’re my favorite supporter!! Saya baru e-mail ke Anda soal review, mudah2an saran ini bisa diterima. Supaya adil kepada semua media. Adil adalah pangkal sukses juga, kan?
Jennie
selamat ya menang contest why i am special….
well, memang semuanya harus diri kita yang menganggap bahwa kita memang special….siapa lagi…
THANK’S GOD…